Kangen….

Kita akan merasakan sayang setelah hal itu hilang dari kita.
“Sangkar emas” itulah hidupku.
Anak Orang terpandang, disegani, memiliki pengaruh dalam masyarakat, uang selalu ada, apa yang diminta langsung tersedia, ga’ tahu namanya mencuci, menyetrika, kerjaan pembantu banget deh (bukan memandang sinis pembantu lho ), semua terasa di surga.
Orang tuaku bukanlah seorang jutawan, apalagi milyader……..blas..ketiplas.
Ibuku hanya HOUSE WIFE dan perempuan yang setia mendampingi suami, menjadi patner kesuksesan seorang laki-laki yang kukenal dari lahir sebagai seorang AYAH.
Ayahku memilki segudang profesi, dari mulai seorang guru, petani, penambak garam, sampai seorang politikus dan sempat menjadi anggota dewan pada orde baru selama 2 periode .
Punya 4 orang anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki dan itu yang paling bungsu.
Aku memiliki kepribadian yang lain dari sodara-sodaraku, dan keanehan itu membuat orang tuaku selalu rajin berucap istighfar melihat ulahku.
Eit…………tapi aku masih terkontrol lho.
Keadaan itulah yang membuatku tersiksa, aku harus menjadi orang lain, aku tidak bisa tertawa cekakakan, duduk dengan menaikkan kaki, makan di jalan, teriak kalau manggil orang, pokoknya gak boleh ini itu.
Waktu SMA aku senang godain guru-guruku, gak tua gak muda, khususnya guru cowok yang muda dan masih berstatus single.
Namun aku harus menghentikan aksi centilku ketika korban-korbanku tau siapa aku (uh…..sebel banget).
Aku gak suka kalau orang-orang tahu latar belakang keluargaku, dan yang paling menjengkelkan apalagi ketika aku mendapat prestasi, semua orang mencibir dan bergeming bahwa keberhasilanku karena melihat orang tuaku.
Tepat tanggal 8 Maret 2001, ALLAH mengambil Ayahandaku, setelah selama kurang lebih 6 bulan beliau sakit, keluar masuk rumah sakit, menguras harta benda, pikiran, tenaga, semua tercurah untuk kesembuhannya.
“FREEDOM” seharusnya kata itu yang pantas aku haturkan, tapi jangankan untuk berucap, membuka matapun aku ga’ sanggup sebab kebayakan bernyanyi sendu ( alias menangis ).
Semua berubah 180 derajat setelah mangkatnya sang POWER. Ekonomi, pengaruh, managemen kelurga dan banyak lagi .
Harta yang ada ternyata tidak menjamin perekonomian keluarga. Ibuku bukan siulung yang pandai mengelola usaha, bukan karena untuk judi, boros dan hal-hal biadab lainnya, melainkan si wanita malang itu tidak punya basic bisnis, dan pengaruh sudah lamanya dia menjadi ibu rumah tangga tanpa keahlian lain menjadi faktor utama.
SEkarang aku “KANGEN” dengan apa yang pernah aku benci. Aku rindu dengan masa laluku. Masa aku menjadi layaknya seorang putri, yang tidak kekurangan apapun. Hanya kasih sayang yang dulu aku tidak punya, dan aku miliki sekarang ini.
Hubunganku dengan IBU semakin lama semakin erat.
Kami selalu bercerita, curhat layaknya dengan seorang sahabat. Sebenarnya dulu aku sendiri yang menjaga jarak dengan orang tuaku, bukan mereka yang tidak peduli karena aku tahu arti kasih sayang serta cinta yang sesungguhnya setelah semuanya tiada.
I LOVE U PA, I LOVE U MA, FORGIVE ME for ALL of ME.
Aku kangen Ayahku yang sekarang berbeda dimensi denganku, dan melihat tingkah polah anaknya.Gimana buruknya kelakuan anak yang pernah dibanggakannya.
Aku kangen Ibu, aku kangen di peluk, bermanja-manja dengannya.Sudah lama aku gak pulang…..
Jadi pengen nangis…………….hik…hik…hik
Sory ya aku jadi curhat, habis ………..suasana ngedukung baget, ditambah kangen pengen pulang

& Komentar

  1. perasaan klo dipendam, ya bisa membusuk, ato suka keluar dari mana2 . . .ga terkendali . . . itulah gunanya blog . . . selamat!

  2. ya……ya….
    tambah pengen curhat terus deh

  3. makasih udah silaturahmi .
    ehmm , jadi intropeksi kasih sayang sama ortu .
    mbak ada cerpen baru lagi nicg
    silahkan silaturahmi

  4. ndang mulih kono Zak… tapi ndang mbalik suroboyo maneh!

    ngko warnetku raono sing ngerameni… :lol:

  5. Aku baca ini jadi gmana gtu…

    Pengin nangis…

  6. jadi ikut kangen juga nih..

  7. Kadang memang apa yg kita benci di masa lalu menjadikan kita kangen dengan semua itu…

  8. Boleh kenalan donk…

  9. begitulah dunia, selalu berputar, antar yang satu dengan yang lainnya bergantian muncul

    kadang sedih, kadang senang, kadang kangen kadang kangen banget,… selalu berputar bagai roda

    bersyukurlah, masih bisa ngeblog !:-)


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar