Hari berganti bulan dan genap sudah satu tahun hubungan mereka, datanglah sahabat karibnya tapi bukan aku dengan membawa kabar tentang kehidupan asli sang Arjuna. Dia membawa juga saksi yang menguatkan pengakuan sang sahabat. Disiang hari dibawalah Linda kesuatu tempa, dimana ada perempuan yang pernah satu kelas dengannya dulu waktu di SMP. Dia memberitahukan kepribadian suram sang arjuna, merasa belum puas, sang sahabat mendatangkan saksi seorang gadis yang pernah melayani nafsu bejat sang Arjuna. Sampai disitu Linda tidak tahan dan hampir pingsan karena keterkejutannya, mendengar penuturan si gadis. Tidak hanya itu, sang Arjuna sering kepergok memboking cewek untuk digauli rame-rame bersama teman-temannya, dan masih banyak lagi kebejatan yang tidak pantas untuk di ceritakan. Linda aku tahu bagaimana remuknya hatimu.
Linda berfikir bahwa itu semua adalah bagian dari masa lalu sang Arjuna, namun hal itu menjadi bagian dari kehidupannya sampai sekarang. Yach linda, betapa malang benar nasibmu. Aku tak bisa menyalahkanmu ketika kamu mengambil keputusan untuk lepas dari sang Arjuna, akupun mendukungmu! Dengan langkah gontai dan segala kehancuran harapannya yang telah berkeping-keping, ia mengumpulkan seluruh keluarga untuk menyelesaikan masalahmu itu, dan siapa yang paling terpukul kalau bukan bokapmu dalang dari semua perjodohan ini.Pagi harinya Linda menemui sang Arjuna dengan membawa sepucuk surat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tapi sayang arjuna tidak ada. Dihatinya terselip kekhawatiran apakkah arjuna akan menerima keputusannya secara sepihak, apalagi hanya dengan alasan terlalu sepele, “ketidakcocokan dan ketidakyakinan untuk bisa langgeng dengan dia”.
Setelah magrib, sang arjuna menelphone. Akhirnya dia bisa menerima keputusan Linda. Semuanya normal-normal saja, dengan sedikit penjelasan, si dia sudah bisa menerima, entah karena kedewasaan atau jiwa besarnya, diapun tak tahu, sempat pula si dia berujar untuk tetap menjalin hubungan secara baik. Mendengar semua penuturan itu, hati Linda sedikit lega, biar semua berlalu dan berganti nuansa.
Waktu berjalan seiring kelukaan yang tertoreh, sampai terdengan kabar tentang pertunangan si Arjuna. Bukan hanya berita itu yang telah menghancurkannya, namun kabar tentang kebencian dan kemarahan serta dendam yang disimpan arjuna untuknya. Bak jatuh ditimpa tangga , belum setahun berjalan, sang arjuna telah berpindah kelain hati dan merubah seluruh cinta yang pernah dia rasakan menjadi kebencian yang dia berikan.
Kembali Linda terpuruk dalam kelukaan hatinya, padahal belum pupus dalam harapan, agar suatu saat dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda dan dipersatukan lagi apabila ALLAH menghendaki. Tapi semua telah sirna, harapan untuk baikpun tak mungkin dimilikinya, entah siapa yang salah……sahabatku ataukah si arjuna yang tidak pernah diketahui kepastiannya, atau mungkin keadaanlah yang berperan lebih banyak dalam mempertanggung jawabkan segalanya. Tangisan dan isaknya tak terbendung lagi, semuanya tumpah dipangkuanku, kuelus rambut panjangnya. Linda tabahlah, kitavtak pernah tahu apa sebenarnya takdir yang telah ditentukan untuk kita. Serahkan semua padaNYA, biarkan DIA yang meneruskan urutan kehidupan ini.
Kupandang wajahnya sekali lagi, wajah yang penuh duka, andaikan bisa, aku ingin langsung berlari mencari orang yang telah begitu menyakiti hati Lindaku ini, ingin kukatakan ia tidak adil, tidak bisa menyelesaikan permasalahan secara dewasa, seharusnya intropeksi dan menyelediki apa yang melatar belakangi terbengkalainya hubungan mereka. Linda telah putus asa, dia trauma untuk mencintai sekaligus dicintai.
Aku tahu kau Linda…….
Masih banyak yang kau sembunyikan dariku tentang duka keluargamu yang sering kau bilang tak mampu mengungkapkan lebih banyak dari yang telah kuketahui. Yang kuketahui….kau tak puas dengan situasi keluargamu yang penuh keotoritasan, kekerasan yang saling menguasai semua anggota keluarga, hampir tidak ada sisa bagimu untuk mengekspresikan diri dan jiwamu. kau telah dewasa, sudah waktnya suaramu didengar, pendapatnu dipertimbangkan, Tapi……………..yach, karena ini urusan keluarga, aku tak mau bicara banyak tentang hal ini, walau sebenarnya aku ingin terlibat didalamnya, untuk bisa terus mendampingimu, tapi biarlah..mungkin ini takdirmu
Maret 6, 2008
Kategori: Tak Berkategori, cerbung . . Penulis: zakiyah umami . Komentar: & Komentar