Ujian……sebel!!!!!

Sory baru bisa say hello, abis sibuk sih ( ceile……………).
Kemarin aku dari jember, cari data buat skripsiku. Setelahnya aku buat istirahat, yang bener istirahat.
Udah 2 hari ini aku ujian akhir semester. Ya ujian terakhirku selama kuliah hampir 3,5 tahun ini. Seharusnya ujian yang tinggal itungan jari menjadikanku semangat……………..eh tambah sebaliknya, males banget. Memang sih bidang ilmu yang aku tempuh tidak membutuhkan otak yang keras untuk belajar ( kebetulan aku fakultas hukum ), hanya butuh otak waras, pemikiran logis serta realistis yang didasari teori, namun namanya pelajaran tetep butuh dipelajari. La wong pengacara aja masih butuh belajar ketika menangani kasus.
Dasar akunya pemalas, ujian nyante baget. Kemarin abis ujian hang out ma temen2 ke mall ampe malam. Pulang kos capek donk pastinya. Jadinya tau sendiri lah apa yang terjadi, melepas lelah, mengurai mimpi, menggambar peta yang tak berskala. Paginya, aku harus bagun pagi, mandi, berangkat kerja, ngerjain tugas paper bahasa inggris persiapan persentasi jum’at depan, belajar sebentar sesekali diselingi ngegame sambil nunggu jemputan berangkat kekampus buat ujian. Hebat kan aku? jarang lho ada orang yang senyantai aku…………( jangan ditiru lah, khususnya anak muda pembangun negara ).
Doain bisa ya ntar ngerjain ujiannya, maklum hanya doa yang aku andalin untuk kali ini, modal dengkul banget lah. Makanya doa dari kalian adalah harapan besarku, penentu hidup dan matiku………..eh salah aku ga mau mati gara2 nilai koq, lagian kan pengen bahagiain orang tua, nikah, sukses dulu, he….he………..he.

Kangen….

Kita akan merasakan sayang setelah hal itu hilang dari kita.
“Sangkar emas” itulah hidupku.
Anak Orang terpandang, disegani, memiliki pengaruh dalam masyarakat, uang selalu ada, apa yang diminta langsung tersedia, ga’ tahu namanya mencuci, menyetrika, kerjaan pembantu banget deh (bukan memandang sinis pembantu lho ), semua terasa di surga.
Orang tuaku bukanlah seorang jutawan, apalagi milyader……..blas..ketiplas.
Ibuku hanya HOUSE WIFE dan perempuan yang setia mendampingi suami, menjadi patner kesuksesan seorang laki-laki yang kukenal dari lahir sebagai seorang AYAH.
Ayahku memilki segudang profesi, dari mulai seorang guru, petani, penambak garam, sampai seorang politikus dan sempat menjadi anggota dewan pada orde baru selama 2 periode .
Punya 4 orang anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki dan itu yang paling bungsu.
Aku memiliki kepribadian yang lain dari sodara-sodaraku, dan keanehan itu membuat orang tuaku selalu rajin berucap istighfar melihat ulahku.
Eit…………tapi aku masih terkontrol lho.
Keadaan itulah yang membuatku tersiksa, aku harus menjadi orang lain, aku tidak bisa tertawa cekakakan, duduk dengan menaikkan kaki, makan di jalan, teriak kalau manggil orang, pokoknya gak boleh ini itu.
Waktu SMA aku senang godain guru-guruku, gak tua gak muda, khususnya guru cowok yang muda dan masih berstatus single.
Namun aku harus menghentikan aksi centilku ketika korban-korbanku tau siapa aku (uh…..sebel banget).
Aku gak suka kalau orang-orang tahu latar belakang keluargaku, dan yang paling menjengkelkan apalagi ketika aku mendapat prestasi, semua orang mencibir dan bergeming bahwa keberhasilanku karena melihat orang tuaku.
Tepat tanggal 8 Maret 2001, ALLAH mengambil Ayahandaku, setelah selama kurang lebih 6 bulan beliau sakit, keluar masuk rumah sakit, menguras harta benda, pikiran, tenaga, semua tercurah untuk kesembuhannya.
“FREEDOM” seharusnya kata itu yang pantas aku haturkan, tapi jangankan untuk berucap, membuka matapun aku ga’ sanggup sebab kebayakan bernyanyi sendu ( alias menangis ).
Semua berubah 180 derajat setelah mangkatnya sang POWER. Ekonomi, pengaruh, managemen kelurga dan banyak lagi .
Harta yang ada ternyata tidak menjamin perekonomian keluarga. Ibuku bukan siulung yang pandai mengelola usaha, bukan karena untuk judi, boros dan hal-hal biadab lainnya, melainkan si wanita malang itu tidak punya basic bisnis, dan pengaruh sudah lamanya dia menjadi ibu rumah tangga tanpa keahlian lain menjadi faktor utama.
SEkarang aku “KANGEN” dengan apa yang pernah aku benci. Aku rindu dengan masa laluku. Masa aku menjadi layaknya seorang putri, yang tidak kekurangan apapun. Hanya kasih sayang yang dulu aku tidak punya, dan aku miliki sekarang ini.
Hubunganku dengan IBU semakin lama semakin erat.
Kami selalu bercerita, curhat layaknya dengan seorang sahabat. Sebenarnya dulu aku sendiri yang menjaga jarak dengan orang tuaku, bukan mereka yang tidak peduli karena aku tahu arti kasih sayang serta cinta yang sesungguhnya setelah semuanya tiada.
I LOVE U PA, I LOVE U MA, FORGIVE ME for ALL of ME.
Aku kangen Ayahku yang sekarang berbeda dimensi denganku, dan melihat tingkah polah anaknya.Gimana buruknya kelakuan anak yang pernah dibanggakannya.
Aku kangen Ibu, aku kangen di peluk, bermanja-manja dengannya.Sudah lama aku gak pulang…..
Jadi pengen nangis…………….hik…hik…hik
Sory ya aku jadi curhat, habis ………..suasana ngedukung baget, ditambah kangen pengen pulang

Anak mbo’e

aku dulu adalah gadis yang dulunya super mandiri.
apa2 dilakuin sendiri termasuk mandi………(jng mkr jorok).
juga gadis yg super duper cuex abisss…bis…..bis
ora ngurus orang mau bilang apa
tapi sekarang keadaan diri berbanding 180 derajat
bgt png tahu urusan org,g bs berdikari sndr, g kreatif, manja ………..dan lain2 yg dl sama sekali g aku bgt deh
mgkn manja wajar, tp aku ngerasa kemanjaanku sgt tidak wajar apalagi ditunjang dng umur dan badan segede semut (gedenya seberapa coy)
senang, pastilah
tp secara individu aku sk sosokku yg dl.
yg g bingung kl g da duit
g pusing msk g py cow
g mrh kl g da yg nganter kl mo kemen-mana.
yg g nangis sk sakit bisulan sekalipun
wonder women de pkoknya.

KEMMON TEMEN-TEMEN, APA YG NMY ANAK “MBOK” SPRT AKU INI

Cinta dan Logika

apabila kamu memutuskan untuk menikah dengan seseorang kelak,apa yang paling kamu utamakan? Cinta ataukah Logika?Cinta tanpa logika seperi berjalan dalam kegelapan, sedangkan Logika tanpa cinta bagai hidup tanpa pegangan